Tampilkan postingan dengan label Mutiara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2008

SARANA DAN PRASARANA UNTUK PRODUKSI BENIH TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)



Tiram mutiara merupakan salah satu komoditas unggulan yang terus dipacu perkembangannya. Sementara ini, baik usaha perbenihan maupun budidayanya banyak dirintis oleh perusahaan swasta dalam skala besar.

Khusus untuk sistem perbenihan, yang berkembang di perusahaan swasta selama ini masih terbilang sangat kompleks. Oleh karenanya, Balai Budidaya Laut Lombok, sebagai satu – satunya unit pelaksana teknis (UPT) Ditjen PB yang mengembangkan species ini, terus berupaya menyederhanakan sistem perbenihan tanpa mengurangi kuantitas dan kualitas hasil produksi.

I. Prasarana Unit Pembenihan

Sarana dan prasarana yang harus dipenuhi adalah

NO

PRASARANA POKOK

UNIT PRODUKSI

1

Bangunan

  • Laboratorium Kultur Pakan Alami
  • Ruang Kerja Laboran
  • Ruang Pemeliharaan
  • Ruang Serbaguna

2

Peralatan

  • Plankton net
  • Bak fiber glass
  • Sistem Pengudaraan/ aerator
  • Sistem Pengairan
  • Peralatan Kultur Pakan Alami
  • Mikroskop dan Perlengkapannya
  • Lemari Es dan Pendingin Ruangan


II.1. Bangunan

Unit pembenihan tiram mutiara dibuat dari bangunan permanen dan harus memiliki 4 ruangan pokok yaitu: laboratorium kultur pakan alami, ruang kerja laboran, ruang pemeliharaan, dan ruang serbaguna. Empat ruangan tersebut merupakan sarana minimal yang harus dipenuhi untuk kegiatan produksi benih tiram mutiara

1. Laboratorium Kultur Pakan Alami

Laboratorium kultur pakan alami merupakan ruang yang steril dengan warna dasar putih, baik untuk lantai, dinding, maupun plafon. Ruang ini dilengkapi dengan pendingin ruangan untuk mempertahankan suhu ruangan konstan 22 oC.

Furniture utama dalam ruangan ini adalah rak kultur yang dilengkapi dengan lampu neon warna putih untuk menghasilkan intensitas cahaya 3000 – 5000 lux dan instalasi aerasi untuk kultur pakan alami, untuk konstruksi ruangan disesuaikan dengan keadaan tempat masing-masing.

Gambar Ruang PakanAlami


1. Ruang Kerja Laboran

Ruang yang didalamnya terdapat mikroskop, timbangan digital, frezer, dan rak penyimpanan bahan kimia ini digunakan untuk kegiatan pengamatan larva, pengamatan plankton, pembuatan pupuk dan penyimpanan stok murni pakan alami.


Gambar Ruang Kerja

1. Ruang Pemeliharaan

Ruang pemeliharaan digunakan untuk kegiatan aklimatisasi induk, pemijahan, pemeliharaan larva dan pemeliharaan spat. Ruang ini dikondisikan gelap, dilengkapi dengan bak – bak pemeliharaan serta instalasi air laut dan aerasi

Gambar Ruang Pemeliharaan

2. Ruang Serbaguna

Ruang ini digunakan untuk mencuci peralatan kerja, sterilisasi peralatan kultur pakan alami, sterilisasi air media kultur pakan alami, dan untuk penyimpanan peralatan kerja. Oleh karenanya, ruang serbaguna dilengkapi dengan kompor gas, rak peralatan, dan instalasi air tawar.

II.2 Peralatan

1. Plankton net

Untuk kegiatan kultur pakan alami dan pemeliharaan larva, digunakan plankton net dengan lebar mata saring: 10,20,40,50,80,100,120,150,180, 200, 250 dan 300µm, fungsinya untuk penyaringan fitoplankton dan larva mutiara.

2. Bak fiber glass

Terdapat 3 ukuran bak fiber glass, yaitu Bak fiber glass volume 3 m3 yang dilengkapi dengan kran 1,5” digunakan untuk pemeliharaan larva, bak fiber glass volume 1,5 m3 untuk pemeliharaan spat, dan bak fiber glass volume 1 m3 untuk wadah aklimatisasi induk.

3. Sistem Pengudaraan/ aerator

Sistem pengudaraan disuplay oleh Hi-blow 60 watt dan dialirkan dengan pipa PVC ¾ “ sebagai saluran utama. Aerasi ke bak larva dihubungkan dengan selang 1/16”.

4. Sistem Pengairan

  1. Suplay Air Laut

Air laut dipompa ke tandon pengendapan menggunakan pompa 10 PK. Kemudian melewati filter dari ijuk. Keluar dari filter ini, air laut mengalir melalui sand filter dan masuk ke hollo fiber membran atau difilter bertingkat dengan catridge 10 µm kemudian 3 µm untuk air media pemeliharaan dan 0,5 µm untuk air media kultur pakan alami dan pemeliharaan larva.

  1. Suplay Air Tawar

Air tawar diambil dari sumur dengan pompa 250 watt kemudian dialirkan ke bak plastik kapasitas 2 m3 yang berada pada tower dengan ketinggian 5 m. Dari tower air tawar dialirkan dengan pipa ¾” . untuk proses sterilisasi dan pencucian semua peralatan produksi.

5. Peralatan Kultur Pakan Alami

Pakan alami dikultur dalam galon dengan volume 19 liter atau toples volume 25 liter. Sedangkan pupuk disimpan dalam erlenmeyer volume 1 liter. Peralatan lain yang digunakan untuk kegiatan kultur pakan alami adalah corong plastik dan gelas ukur. Sedangkan untuk membuat pupuk diperlukan timbangan digital dan hot plate. Untuk sterilisasi air media kultur, diperlukan panci stainless steel dan satu set kompor gas.

6. Mikroskop dan Perlengkapannya

Mikroskop yang digunakan adalah mikroskop binokuler yang dilengkapi dengan mikrometer. Perlengkapan lain untuk membantu dalam penggunaan mikroskop adalah kamera digital, monitor, pipet, obyek glass, haemocytometer dan hand counter.

7. Lemari Es dan Pendingin Ruangan

Lemari es digunakan untuk menyimpan stok bibit pakan alami (inokulan), sedangkan air conditioner 1,5 PK digunakan untuk menjaga kestabilan suhu ruang laboratorium pakan alami.


Sabtu, 13 September 2008

MARI KITA BERINVESTASI DALAM USAHA PENDEDERAN TIRAM MUTIARA

Salah satu alternatif investasi yang sangat menjanjikan pada sector perikanan. Adalah usaha pendederan spat tiram mutiara, mengingat pada saat kondisi ekonomi belum stabil seperti sekarang, banyak usaha yang kesulitan untuk menghasilkan keuntungan. Banyaknya pilihan usaha yang “menguntungkan”, tetapi kita perlu mengkritisi, apakah modal yang digunakan untuk usaha tersebut memiliki tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari tingkat bunga deposito. Untuk itu perlu suatu kalkulasi ulang terhadap bisnis Anda - tentunya termasuk usaha pendederan tiram mutiara - jika ternyata tingkat pengembalian modalnya bisa dipertanggung jawabkan dengan mengacu pada suku bunga bank marilah kita bergabung untuk berinvestasi didalamnya. Salah satu alat kalkulasi keuangan suatu usaha yang mampu menunjukkan tingkat imbalan terhadap penggunaan seluruh modal adalah analisis penampilan usaha. Untuk itu, perlu kita lihat, bagaimana sebenarnya penampilan usaha pendederan tiram mutiara – tentu dengan keadaan untung ruginya.

Pendederan tiram mutiara kebanyakan dilakukan dengan sistem long line dan rakit apung, dimana poket yang berisi benih tiram mutiara digantung pada long line dan rakit tersebut. Untuk mendapatkan tiram ukuran panen, 7 – 9 cm, dibutuhkan 1 siklus produksi dengan durasi waktu 1 tahun. Usaha skala menengah membutuhkan 10 unit long line dan 1 unit rakit apung dengan kapasitas produksi 36.000 ekor/ tahun dan kebutuhan investasi awal sebagai berikut:

No

Uraian

Vol

Satuan

(Rp./ Sat)

Nilai/ Sat.

(Rp.)

1

Ponton

1

Unit

5,000,000

2

Speed boat 40 PK

1

Unit

50,000,000

3

Pocket

1,000

Buah

20,000

4

Long line

10

Unit

7,500,000

5

Waring

1,000

Buah

5,000

6

Bak fiber

1

Buah

500,000

7

Mesin semprot bertekanan

1

Unit

2,000,000

8

Pompa air portable 2"

1

Unit

2,500,000

9

Keranjang plastik

6

Buah

25,000

10

Rakit apung

1

Unit

7,000,000

11

Pisau

50

Buah

5,000

12

Jarum karung

10

Buah

1,000

13

Tali jarit 1 mm

10

Kg

3,000

Jumlah

167,440,000


Baik ponton, speed boat, maupun peralatan lainnya yang digunakan tentu perlu dirawat secara teratur sehingga selalu dapat digunakan dengan baik. Untuk itu setiap bulannya dianggarkan Rp. 1.395.000, 00 sebagai biaya pemeliharaan

Dalam menjalankan usaha pendederan, pemilik biasa mempekerjakan 2 orang teknisi dengan gaji perorang Rp. 850.000,00/ bulan dan dibantu oleh 2 orang operator dengan gaji Rp. 500.000,00 / bulan. Selain itu, dalam pelaksanaan pekerjaan seringkali diperlukan tenaga kerja harian sebanyak 2 orang, terutama untuk membantu memasang long line, membersihkan tiram, membersihkan waring, dan beberapa kegiatan lainnya. Tenaga harian ini mendapat honor Rp. 15.000,00 / orang/ hari.

Bahan utama untuk usaha pendederan adalah spat kolektor. Untuk usaha skala menengah membutuhkan 500 lembar kolektor dengan harga satuan Rp.100.000,00. Selanjutnya, biaya operasional – untuk bahan bakar speed boat dan oli – rata – rata menghabiskan Rp. 340.000,00/ bulan

Pengeluaran lain biasanya merupakan biaya untuk konsumsi karyawan sebesar Rp. 150.00,00 / bulan dan cadangan pengeluaran tidak terduga yang diasumsikan Rp. 1.200.000/ bulan.

Pendapatan dari usaha pendederan merupakan hasil penjualan tiram ukuran 8 cm. Dengan tingkat kelulus hidupan 10 % dan harga /cm Rp. 2000,00 maka diperoleh pendapatan kotor Rp. 240.000.000,00. Dari hasil yang diterima ini, 10 % merupakan kewajiban untuk membayar pajak penghasilan dan 10 % merupakan bonus bagi karyawan.

Data – data keuangan di atas kemudian dianalisis dengan analisis performance (penampilan usaha) pada tingkat bunga 12/ tahun dengan hasil sebagai berikut:

No

Uraian

Nilai

1

Biaya:



Kebutuhan modal (Rp.)

282,740,000


Biaya tetap/ tahun (Rp.)

89,859,000


Biaya variabel/ tahun (Rp.)

82,900,000


Bunga kredit (Rp)

51,174,409

2

Penampilan usaha:



Pendapatan kotor (Rp)

240,000,000


Imbalan penggunaan modal (%)

23.78


Profit (Rp)

16,066,591

Demikian gambaran penampilan usaha pendederan tiram mutiara ditinjau dari sisi keuangan. Disamping ini masih banyak aspek yang harus diperhatikan apabila ingin berinvestasi di dalamnya. Semua keputusan dan segala resikonya tetap milik Anda. Selamat mencoba!

Sabtu, 26 Juli 2008

CARA PEMBUATAN PAKAN ALAMI UNTUK PEMBENIHAN TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)

1. Penyiapan pakan alami

Kegiatan kultur plankton untuk memenuhi kebutuhan pembenihan mutiara meliputi beberapa tahapan, yaitu:

  1. seterilisasi alat dan bahan
  2. Teknik kultur fitoplankton

· Pengecekan sampel inokulan

· Pemupukan air media

· Larutan Vitamin

· Larutan Vitamin Mix

  1. Jenis fitoplankton yang dikultur

a. Sterilisasi Alat

Semua alat yang digunakan dalam proses kultur pakan alami mutlak disteril. Adapun tahapan sterilisasi sebagai berikut :

  1. Direndam dengan larutan HCl
  2. Dicuci dengan sabun cuci dan dibilas bersih dengan air tawar
  3. Disteril dengan uap panas atau dengan perebusan
  4. Disemprot dengan alkohol 11%

Setelah disteril, semua alat disimpan pada ruang steril dan siap digunakan.

b. Steril bahan

Bahan yang akan digunakan dan harus disteril terlebih dahulu adalah : pupuk dan air media. Adapun tahapan steril pupuk sebagai berikut :

  1. Menimbang pupuk sesuai dengan komposisi yang diinginkan
  2. Disteril menggunakan hot plate lengkap dengan stirer
  3. Sterilisasi dapat juga menggunakan uap panas (dikukus) selama ± 3 jam.

Steril air media dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

1. Air laut yang akan digunakan untuk air media kultur plankton, disaring menggunakan sand filter dan catridge.

2. Direbus menggunakan panci steinles anti karat

3. Perebusan sampai mencapai suhu 800C

4. Dimasukkan dalam wadah botol galon atau toples volume 25 liter

5. Didinginkan dan disimpan dalam ruang steril

c. Teknik kultur fitoplankton

Adapun tahapan dalam kultur fitoplankton sebagai berikut :

  1. Pengecekan sampel inokulan

Inokulan yang akan digunakan sebagai bibit dicek menggunakan mikroskop dan haemocytometer untuk mengetahui kualitas dan kuantitasnya, umur inokulan harus di atas 4 hari.

  1. Pemupukan air media

Air laut steril yang akan digunakan sebagai air media tumbuh dipupuk sesuai dengan kebutuhannya dan diaerasi. Pupuk yang dipergunakan yaitu KW21 yang dijual bebas dipasaran dengan dosis 1ml/liter atau membuat komposisi sendiri, Persiapan pupuk yang dilakukan adalah dengan membuat larutan NaNO3, Na2HPO4, NaSiO3 (silikat), dan Clewat 32. Proses selengkapnya adalah sebagai berikut:

· Na NO3

Menimbang 20 gram Na NO3 dilarutkan kedalam 200 ml aquadest dan diautoclave dengan suhu 115 0 C selama 30 menit. Atau 100 Gram/1 Liter

· Na2 HPO4

Menimbang bahan sebagai berikut:

- Na2 HPO4 12H20 : 14 Gram

- Na HC03 : 12,6 Gram

- EDTA II Na / Titriplex : 18,1 Gram

Bahan-bahan tersebut kemudian dilarutkan ke dalam 1 Liter aquadest dan diautoclave dengan suhu 115 0C , dalam jangka waktu 30 Menit

· Na2 Si03 (silikat)

Menimbang 1 Gram Na2 Si03 dilarutkan kedalam 200 ml aquadest dan diautoclave dengan suhu 115 0C selama 30 menit. atau 5 Gram /1 Liter

· Clewat 32

Menimbang 20 Gram Clewat 32 dilarutkan kedalam 200 ml aquadest dan diautoclave dengan suhu 115 0C selama 30 menit. atau 100 Gram/1 Liter

3.Larutan Vitamin

Membuat larutan vitamin B-12 dan vitamin H (Biotin), dengan cara sebagai berikut:

· Vitamin B– 12 sebanyak 0,1 Gram dilarutkan kedalam 500 ml aquadest atau 0,04 Gram 200 ml aquadest.

· 2 ml Vitamin B-12 dilarutkan kedalam 200 ml aquadest atau 10 ml dalam 1 liter aquadest.

· Vitamin H (Biotin) sebanyak 0,1 Gram dilarutkan kedalam 500 ml aquadest atau 0,04 Gram 200 ml aquadest.

4.Larutan Vitamin Mix

Membuat larutan vitamin mix dengan cara : 0,2 Gram Thiamin (Vit. B-1) dilarutkan dalam 200 ml aquadest atau 0,5 gram/1 ltr aquades ditambahkan 5 ml Vitamin B-12 dan 5 ml Vitamin H (Biotin). untuk membuat larutan vitamin tidak perlu di autoclave

d. Jenis Fitoplankton Yang Dikultur

Þ Isochrysis galbana

Þ Chaetocheros sp.

Þ Pavlova lutheri

Þ Tetracelmis chuii

Þ Nannochloropsis oculata

  • Inokulan dimasukkan dalam air media sesuai dengan kepadatan yang dikehendaki, biasanya perbandingan air media dengan inokulan 3 : 1.
  • Diletakkan pada rak kultur yang dilengkapi dengan pencahayaan buatan dengan intensitas cahaya 3000-5000 lux
  • Setelah umur 4 hari, fitoplankton siap diberikan pada larva sebagai pakan.

Minggu, 20 Juli 2008

KEKERANGAN: CARA PEMELIHARAAN LARVA TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima)

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ketersediaan benih berkualitas secara kontinue menjadi salah satu masalah yang cukup pelik dalam pengembangan budidaya tiram mutiara di Indonesia. Namun demikian, meningkatnya kebutuhan benih di lain sisi juga memunculkan tantangan tersendiri karena membuka peluang bagi masyarakat untuk terjun dalam usaha penyediaan benih. Mengingat dewasa ini teknologi pembenihan tidak lagi menjadi monopoli perusahaan besar.
Untuk memberikan gambar riil kepada masyarakat tim pembenihan mutiara yang tergabung dalam unit kegiatan pembenihan non finfish mencoba memberikan petunjuk teknis yang sederhana dan mudah dipahami agar kegiatan pembenihan yang dilakukan Balai Budidaya Laut Lombok memberikan dampak yang nyata terhadap masyarakat.
1.2 Tujuan
Tujuan dari petunjuk teknis ini adalah:
1. Untuk Menyediakan Panduan Teknis Cara Pemeliharaan Larva Tiram Mutiara (Pinctada Maxima)

2. Untuk membuat rintisan awal standar operasional prosedur pemeliharaan larva tiram mutiara

II. Pemeliharaan Larva
a. Pemijahan
Dimulai dari pengecekan induk,dipilih induk yang berkualitas dengan syarat :
1. Matang gonad penuh
2. Secara visual tampak sehat dan normal
3. Umur ≥3 tahun dan diameter ≥15 cm.
Induk dibersihkan dari kotoran dengan cara disikat, diaklimatisasi diloboratorium selama 1 hari. Induk kemudian siap untuk dipijahkan dengan teknik thermal shock, pemijahan diprioritaskan adanya persilangan antara induk alam dan induk hasil budidaya dan menghindari perangsangan menggunakan bahan-bahan kimia.

b. Penebaran telur
Dilakukan pengecekan sampel setelah 1 jam pemijahan, jika telur telah dibuahi, telur dipanen dengan cara disiphon dan ditampung menggunakan plankton net dengan mesh size 80, 30 dan 20 mikron. Telur yang sudah dibuahi (embrio) tersebut dibilas dengan air laut bersih kemudian ditebar pada bak pemeliharaan larva dengan kepadatan 5 butir/ml.
c. Pemberian pakan
Umumnya 20-24 jam setelah pembuahan, telur telah berkembang menjadi larva bentuk D (D-shape), larva mulaidiberikan pakan yang menjadi asupan nutrisi yang akan memacu perkembangannya. Pakan pertama yang diberikan adalah fitoplankton dari jenis Isochrysis galbana. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan kepadatan larva dan terus ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan larva. Kepadatan pakan yang diberikan berkisar antara 2000-8000 sel/ml (seperti pada tabel 1).

Table 1. Pola kombinasi pemberian pakan alami.


No

Stadia

DoC

Kombinasi Pakan Alami (%)

Jumlah

Iso

Chae

Pav

Nitz

Tetra

Nanno

Total (sel/ ml)

1

Telur

D 0

-

-

-

-

-

-

-

2

Umbo - 1

D 1

75

25

-

-

-

-

2000

3

D 2

75

25

-

-

-

-

2500

4

D 3

75

25

-

-

-

-

3000

5

D 4

75

25

-

-

-

-

3000

6

Umbo - 2

D 5

75

25

-

-

-

-

3500

7

D 6

75

25

-

-

-

-

3500

8

D 7

50

25

25

-

-

-

4000

9

D 8

50

25

25

-

-

-

4000

10

Umbo - 3

D 9

50

20

20

10

-

-

4500

11

D 10

50

20

20

10

-

-

4500

12

D 11

50

20

20

10

-

-

5000

13

D 12

50

20

20

10

-

-

5000

14

Plantygrade

D 13

50

20

20

10

-

-

5500

15

D 14

50

20

15

10

5

-

5500

16

D 15

50

20

15

10

5

-

6000

17

Spat

D 16

50

20

15

10

5

-

6000

18

D 17

40

20

20

10

-

10

6500

19

D 18

40

20

20

10

-

10

6500

20

D 19

40

20

20

10

-

10

7000

21

D 20

40

20

20

10

-

10

7000

22

D 21

40

20

20

10

-

10

7500

23

D 22

40

20

20

10

-

10

8000






Iso : Isochrysis galbana
Chae : Chaetocheros sp.
Pav : Pavlova lutheri
Tetra : Tetracelmis chuii
Nanno : Nannochloropsis oculata

d. Ganti air media
Sisa pakan dan hasil metabolisme larva dapat menurunkan kualitas air media, untuk itu multak dilakukan pergantian air media guna menjaga agar media tumbuh larva tetap optimum. Pergantian air media dilakukan setiap 2 hari dengan cara menyiphon semua larva dan menyaringnya menggunakan plankton net dengan lebar mata saringan disesuaikan dengan ukuran larva. Setelah semua larva tersiphon, dilakukan pengecekan sampel untuk mengetahui kondisi larva. Larva kemudian ditebar kembali pada air media baru sesuai dengan ukuran dan kepadatan yang diinginkan.
e. Pemanenan
Setelah mencapai stadia plantygrade (17-19 hari), pada larva akan muncul eye spot (bintik hitam) yang menjadi indikator larva siap menempel. Pada stadia ini larva mengalami perubahan behavior dari planktonis menjadi sesil. Untuk merespon perubahan tersebut, perlu dipersiapkan substrat kolektor yang akan dijadikan tempat melekatnya bisus, substrat biasanya dari jenis polietilen atau paranet. 1 mingu setelah menempel, benih (spat) dapat dipanen, pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat substrat dari bak pemeliharaan dan siap untuk didederkan di laut.

III. PENUTUP
Petunjuk teknis yang disusun diharapkan dapat menjembatani kepentingan kegiatan pembenihan tiram mutiara di Balai Budidaya Laut yang dilakukan oleh unit kerja pembenihan non finfish dengan masyarakat pembudidaya tiram mutiara. Artinya bahwa Balai Budidaya Laut harus mampu memberikan pedoman/prosedur kerja tentang cara pemeliharaan larva mulai dari pemijahan sampai pemanenan produk kepada kalayak luas. Hal inilah yang melatar belakangi petunjuk teknis ini disusun semoga bisa dijadikan petunjuk bagi pihak-pihak yang membutuhkan informasi tentang cara pemeliharaan larva mutiara. Demi sempurnanya juknis ini kami sangat mengharapkan masukan-masukan yang korektifdan membangun.